Langsung ke konten utama

Postingan

Hilangnya Ikatan Persahabatan Akibat Munculnya Smartphone

  Aku lahir dan besar di sebuah desa di pinggiran kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat sebut saja nama daerahnya Desa Daster. Sebagai gen Z yang lahir di tahun 2002, transformasi kehidupan akibat munculnnya smarthphone sangat terasa bagiku terutama di daerah tempat tinggalku. Disini aku akan bercerita bagaimana perkembangan teknologi ( smartphone ) hadir dan merubah permainan tradisonal di lingkungan rumahku, yaitu RT 5, Desa Daster. Ini dimulai sejak masa kecilku sekiranya tahun 2007, saat itu aku masih berusia 5 tahun. Di lingkunganku, aku bermain seperti anak kecil lainnya bersama 7 orang temanku lainnya yang terdiri dari memang tinggal di lingkungan yang sama. Kami bersahabat sejak lahir karena memang tahun lahir kami yang saling berdekatan dan latar budaya kami yang sama yaitu dari orang tua yang merantau dari Pulau Bali. Saat itu, tiada hari tanpa bermain, setiap jam 2 siang kami akan berkumpul di salah satu rumah untuk bermain permainan apapun. Berbagai permainan t...

Transformasi Si Anak Desa di Tanah Perantauan, Jakarta

  Siapa yang tidak kenal Jakarta? Jikalau nama “Jakarta” disebut, yang pertama terlintas dipikiranku adalah “kota besar”. Sebagai seseorang yang lahir dan besar di sebuah desa di pinggiran Kota Mataram, bisa hidup di kota menjadi salah satu impianku. Kenapa? Untukku tinggal di kota akan memberiku banyak keuntungan akses ke minimarket yang mudah, ongkos kirim belanja online lebih murah, dan tidak susah sinyal. Dan disinilah tempat tinggalku sekarang, Kota Jakarta. Proses beradaptasi dari seseorang yang tinggal di pinggiran kota menjadi seseorang yang tinggal di jantung ibu kota negara tidak terlalu sulit untukku. Realita tinggal di kota yang padat ini tidak sesulit ekspetasiku sebelum menginjakkan kaki disini. Walaupun begitu, awal datang ke Jakarta aku cukup kaget dengan kondisi tempat tinggal yang sumpek dan terlalu banyak orang ini. Namun, aku takjub dengan berbagai pemandangan kota yang tidak pernah kulihat sebelumnya di kampung halamanku yang berbeda hampir 180 derajat...

Migrasi di Provinsi NTB

  Migrasi secara luas dapat diartikan sebagai perubahan tempat tinggal secara permanen tanpa pembatasan baik pada jarak perpindahan maupun sifatnya yaitu apakah bersifat sukarela atau terpaksa, serta tidak ada perbedaan antara perpindahan di dalam negeri atau ke luar negeri (BPS). Konsep migrasi dalam statistik migrasi yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS) adalah perpindahan penduduk dengan tujuan menetap dari suatu tempat ke tempat lain melewati batas administratid provinsi atau kabupaten/kota (migrasi internal). Batasan waktu untuk sesorang dikatakan melakukan migrasi adalah 1 tahun yang sejalan dengan konsep tempat tinggal atau dapat diartikan bawah seseorang dikatakan migran jika tempat tinggal di tempat baru atau berniat tinggal di tempat baru paling sedikit satu tahun lamanya. Dari artikel yang dirilis Liputan6, terdapat dua jenis migrasi, yaitu migrasi nasional dan migrasi internasional. Migrasi nasional adalah perpindahan penduduk yang terjadi masih dalam satu...